Pernahkah kita menyadari, hal pertama apa yang kita sentuh atau kita lihat begitu mata terbuka setelah tersadar dari nikmatnya mimpi di pagi hari? Bukan lagi cakrawala yang sedang merekah indah di langit timur, embun pagi yang membasahi dedaunan, atau lembaran kertas buku catatan sisa merenung kemarin sore di tepian senja, melainkan layar datar bercahaya.
Belum sepenuhnya kesadaran kita pulih, gelombang informasi dalam hitungan detik langsung mengguyur kepala kita. Grafik algoritma seolah tahu apa yang ingin kita lihat, baca, tonton atau kita cemaskan, bahkan sebelum sempat kita merumuskan pertanyaan di dalam kepala kita sendiri.
Saat ini kita hidup pada era dimana segala hal berlomba dalam menawarkan keinstanan. Pesan yang kita ketik dalam hitungan sepersekian detik sudah terkirim, persoalan atau kerumitan sains dan berbagai keilmuan bisa tersaji dengan cepat melalui kecerdasan buatan serta kita senantiasa disuap dengan hiburan dan konten di layar-layar yang selalu kita tatap tiap harinya.
Namun, dari berbagai kemudahan yang sangat memanjakan kita ini, pernahkah kita berhenti sebentar, duduk di tepian rasa, menoleh sedikit ke belakang lalu bertanya, di manakah sisa ruang bagi jiwa, rasa dan intelektualitas kita untuk sekadar menghembuskan napas dan merenungi hal-hal yang selama ini seolah berjalan begitu lamban bagi kita?
Algoritma dirancang memang untuk meramu ketergesaan, kecerdasan buatan (AI) berhasil memanjakan kita dengan kepraktisan, membiasakan kita menerima hasil dengan instan tanpa perlu berseok-seok merumuskan proses berpikir mendalam. Ketika kita sudah kecanduan dengan segala keinstanan ini, maka secara tidak langsung kita sudah terjangkit sebuah penyakit kronis, yaitu penumpulan nalar kritis dan kekeringan daya cipta kreatif secara perlahan namun pasti.
Kita sekarang sudah tak betah membaca buku berhalaman-halaman, tak sabar membaca teks yang panjang, enggan menggali akar masalah, malas mencari kebenaran dan referensi pastinya. Kita lebih suka teks-teks pendek yang seolah sudah mewakili seluruh kebenaran, lebih mencintai informasi-informasi pendek yang padahal masih serba hitam putih.
![]() |
| Ilustrasi |
Di satu sisi, sebenarnya kita sangat terbantukan dengan hal-hal praktis ini, informasi cepat diterima, berita cepat terserap, aspirasi disampaikan dan kebutuhan cepat terpenuhi tanpa menunggu lama. Tapi pada sisi yang lain, percepatan ini terkadang tidak berbanding lurus dengan kematangan peradaban kita. Kita lihat bagaimana ruang publik digital ini kerap dipenuhi dengan provokasi, polarisasi, mudah tersulut amarah dan suburnya disinformasi.
Hal ini tentu menjadi sebuah ironi bahwa memiliki akses teknologi paling canggih sekalipun tidak bisa membuat seseorang memiliki kematangan literasi jiwa. Ketika batasan etika dan adab melebur di ruang cloud tanpa batas, kecanggihan dan keinstanan sering kali hanya mempercepat penyebaran ego ketimbang memperluas empati. Dalam bahasa yang lebih kampung ‘kita cerdas secara digital, tapi rabun secara nurani’.
Lalu kita mesti bagaimana? Apa iya kita mesti nunduk dan pasrah di bawah kendali algoritma? Tentu saja tidak. Kita adalah manusia yang tidak pernah dirancang untuk sekadar menjadi mesin pengumpan data. Kita harus membuat semacam perlawanan kultural yang mungkin sederhana namun tetap ganas dan radikal, ‘SENI MELAMBAT’.
Melambat bukan berarti tertinggal, melambat bukan berarti ketandusan literasi, tidak juga keterbelakangan peradaban apalagi untuk memusuhi teknologi. Melambat adalah sebuah ikhtiar sadar untuk kita bisa merebut kembali ruang sunyi yang sempat hilang di tengah kerumunan arus jagat dunia maya.
Sejenak, mari kita matikan data, sediakan waktu tanpa layar. Kita baca kembali lembaran-lembaran yang sekarang sudah kusam di pojok lemari, atau sekedar duduk santai sambil menikmati secangkir kopi tanpa ada notifikasi, atau kita kembali menulis pada selembar kertas sekedar untuk mengetahui apakah tulisan kita masih bagus atau sudah keseleo, dan atau kita buka kembali buku tulis lama kita yang di dalamnya terdapat banyak kata ‘mutiara cinta’ yang dulu kita tulis di pojokan kelas dengan olah fikir dan rasa sambil melihat senyuman dia tanpa melihat kecanggihan metadata.
Barangkali, di tengah pusaran dunia yang senantiasa memaksa kita untuk bergerak cepat, ada sesuatu yang justru hanya bisa ditemukan ketika kita mau berhenti sejenak. Karena pada sejatinya, secanggih dan sehebat apa pun algoritma meniru perilaku manusia, ia tetap tidak akan pernah bisa memiliki apa yang menjadi esensi dari sejatinya manusia seperti luka yang membara, sedih yang mendalam, proses pencarian yang melelahkan, keikhlsan batin, ketulusan jiwa dan keheningan rasa.
Terakhir, dalam dunia yang senantiasa menuntut segalanya harus serba instan, merawat kewarasan dan menjaga kedalaman rasa adalah salah satu bentuk perlawanan paling elegan yang bisa kita lakukan.
Wallahu A’lam bis Shawwab
https://yusufa17.blogspot.com/


0 Komentar