Tahun 2025, sebanyak 12 bulan, 52 minggu + 1 hari, 365 hari,
8.760 jam, 525.600 menit dan 31.536.000 detik sudah kita lalui. Tahun yang datang
tanpa perayaan rasa, dan pergi pun tanpa aba-aba. Ia seperti angin sore, lembut
terasa namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. Ketika kalender menutup
lembar terakhirnya, barulah kita tersadar bahwa waktu tidak sekadar berlalu, ia
meninggalkan jejak diam-diam, di sudut-sudut ingatan dan rongga-rongga batin
yang paling dalam.
Sepanjang tahun ini, hidup terasa sering kali berjalan lebih
cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Hari-hari dipenuhi deretan kesibukan
aktivitas, target, dan tuntutan, hingga jeda menjadi sesuatu yang sangat mewah.
Banyak hal kita kerjakan, tak sedikit yang diselesaikan, namun tidak semuanya
sempat direnungi. Barangkali di situlah letak kehilangan kita yang paling
halus, terlalu sibuk menjalani hingga lupa merasakan.
Tahun ini mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan harus
berujung sorak-sorai dan tepuk tangan. Terkadang ada langkah-langkah sunyi yang
tak tercatat di lembaran puisi, do’a-do’a yang tak sempat diamini, serta lelah
yang hanya bisa dimengerti oleh diri sendiri. Dalam kesunyian itulah, hidup
sesungguhnya sedang berbicara tentang batas, tentang sabar, tentang menerima
bahwa tidak semua rencana patuh pada kehendak kita.
Ada hari-hari di mana harapan tumbuh subur bak bunga di
musim semi, dan ada masa ia gugur sebelum kuncup sempat bermekaran. Namun hal
ini menanamkan satu pemahaman pada kita bahwa gagal tidak selalu berarti kalah,
dan berhasil tidak selalu berarti selesai. Keduanya hanyalah fase, bukan
identitas. Keduanya hanyalah koma bukan titik. Dibalik itu semua yang abadi
justru proses ‘menjadi’ (menjadi lebih jujur pada diri sendiri, lebih
legowo pada keadaan, dan lebih lembut pada luka).
![]() |
| Ilustrasi |
Tahun ini juga memperlihatkan betapa riuh dunia sering kali
berbanding terbalik dengan kedalaman makna. Kata-kata berseliweran, opini
bersilang, suara saling menyahut, syair saling berdeklamasi. Namun di tengah
kebisingan itu, makna justru kerap ditemukan dalam hal-hal sederhana, secangkir
kopi pagi bersama pasangan, obrolan ngalur ngidul tanpa agenda, atau keheningan
malam yang tidak menuntut apa pun selain kedamaian.
Mari sama-sama kita merenung bahwa tahun ini menyadarkan, hidup
bukan soal menumpuk pencapaian, melainkan menata orientasi. Bukan tentang
seberapa jauh kaki kita melangkah, tetapi seberapa sadar setiap langkah
diayunkan. Ada kebijaksanaan dalam Langkah yang melambat, ada kedewasaan dalam
berhenti dan rehat sejenak, dan ada keberanian dalam mengakui bahwa manusia
memang tidak harus selalu kuat.
Kini, 2025 benar-benar hendak menutup pintunya dengan rapat, ia meninggalkan kita dengan satu pertanyaan sunyi: sudahkah kita hidup, atau sekadar melewati waktu? Pertanyaan ini tak usah dijawab, sebab jawabannya nggak mungkin tuntas dan butuh diskusi yang lebih Panjang, cukup dijadikan sebagai bahan renungan kita saja. Pada intinya hidup ini bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk menyiapkan masa depan dengan lebih jernih.
Tahun 2026 akan datang, seperti biasa, tanpa janji dan kepastian.
Tapi tak masalah, sebab yang harus kita lakukan hanyalah menyambutnya dengan
niat yang lebih bersih, hati yang lebih siap, langkah yang lebih sigap dan
keyakinan yang tegap. Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan waktu,
melainkan perjalanan makna.
Terakhir, tahun 2025 dengan segala gaduh dan diamnya, telah mengajarkan satu hal paling manusiawi bahwa memahami hidup sering kali lebih penting daripada sekadar menjalaninya.
Wallahu A’lam bis
Shawwab


1 Komentar
Masha Allah, refleksi 2025 dan harapan 2026
BalasHapus