| Pada suatu malam yang pekat, kala gelap seolah menelan seluruh arah, seorang laki-laki berpapasan dengan seorang tunanetra. Ada sesuatu yang mengusik rasa herannya, dimana sang tunanetra tersebut berjalan sambil membawa obor yang sedang menyala. |
Karena penasaran, laki-laki itu pun bertanya, “Hal
kisanak, untuk apa obor yang engkau bawa itu, bukankah engkau tidak dapat
melihat?”
Sang tunanetra itu menjawab dengan tenang, “ouhhh, obor
ini bukan untukku, tapi untukmu, agar engkau tak menabrakku.”
Jawaban yang sangat sederhana, tetapi menyimpan makna yang
sangat mendalam. Ia memang tak dapat menikmati cahaya obor yang dibawanya,
sebab matanya tak pernah menangkap terang. Tapi dalam keterbatasannya, ia
justru memikirkan keselamatan sesama, bukan untuk dirinya tapi untuk
orang-orang disekitarnya.
Perlu kita ingat, bahwa hidup bukan semata-mata tentang
apa yang berguna bagi diri sendiri, melainkan juga tentang apa yang dapat kita
hadirkan bagi orang lain. Obor di tangan orang buta itu menjadi lambang
kepedulian, bahwa sesuatu yang mungkin tak banyak berarti bagi kita, bisa
menjadi penolong besar bagi orang lain.
![]() |
| Ilustrasi AI |
Sering kali, dalam perjalanan hidup, kita tidak menyadari
bahwa ada begitu banyak tangan yang ikut menopang langkah kita. Keluarga,
sahabat, tetangga, bahkan orang-orang yang tampaknya hanya hadir di pinggir
kehidupan kita, sesungguhnya memiliki peran yang tidak kecil dalam keberhasilan
yang kita capai. Mereka mungkin tidak selalu tampil di depan, tidak selalu
disebut, dan tidak selalu terlihat jasanya. Namun do’a-do’a mereka, perhatian
kecil mereka, serta ketulusan yang mereka berikan sering kali menjadi cahaya
yang menuntun kita melewati gelap.
Sayangnya, manusia kerap sibuk menghitung kekuatan dirinya
sendiri, lalu lupa bahwa ada banyak kebaikan yang diam-diam mempermudah
jalannya. Kita terlalu mudah merasa bahwa keberhasilan lahir semata dari usaha
pribadi, padahal di balik itu ada dukungan yang tak kasatmata, ada kasih sayang
yang tak selalu terucap, dan ada do’a yang melangit dalam sunyi.
Karena itu, menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa kehidupan
yang bermakna bukan hanya karena kita telah mampu berjalan jauh, tetapi juga karena
kita telah sanggup memberi terang bagi sesama. Dan di saat yang sama, kita pun
perlu belajar untuk lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih berterima kasih
kepada orang-orang di sekitar kita. Sebab boleh jadi, langkah yang hari ini
terasa ringan bukan hanya karena kuatnya kaki kita, melainkan karena banyaknya
lentera yang diam-diam dinyalakan untuk kita.
Wallahu A’lam Bis Shawwab
---------------
Yusuf An-Nasir, 15
Maret 2026 / 25 Ramadhan 1447 H
https://yusufa17.blogspot.com/


0 Komentar